Aku Terbiasa Mengecilkan Diriku Sendiri

ada satu kebiasaan yang baru kusadari belakangan ini.
setiap kali masuk ke tempat baru, aku selalu berusaha tidak terlalu terlihat.

tidak terlalu banyak bicara.
tidak terlalu menonjol.
tidak terlalu berharap.

seolah-olah ada bagian dalam diriku yang terus berkata,
"jangan terlalu percaya diri nanti kecewa."
"jangan terlalu terlihat nanti disalahkan."
"jangan terlalu menjadi diri sendiri nanti tidak diterima."
aku tidak tahu sejak kapan suara-suara itu tinggal di kepalaku.

mungkin sejak aku terlalu sering merasa tidak cukup.
mungkin sejak pendapatku lebih sering dipatahkan daripada didengarkan.
yang jelas, tanpa sadar aku tumbuh menjadi seseorang yang selalu memeriksa dirinya sendiri.

takut salah.
takut mengganggu.
takut menjadi beban.
padahal semakin dewasa aku mulai mengerti,
tidak ada yang salah dengan mengambil ruang untuk diri sendiri.

tidak ada yang salah dengan berbicara ketika kita punya sesuatu untuk disampaikan.
tidak ada yang salah dengan menjadi diri sendiri.
dan mungkin proses pulih yang sebenarnya bukan tentang menjadi orang baru.
tapi tentang berhenti hidup sebagai versi kecil dari diri kita sendiri.

karena setelah semua yang terjadi,
aku juga berhak ada.
aku juga berhak didengar.
aku juga berhak menjadi diriku sendiri.

"luka membuatku mengecil.
pulih mengajarkanku untuk kembali mengambil ruang."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyembuhkan Diri Tidak Harus Sendirian

Tidak semua luka bisa dilihat.

Pelan Pelan Pulih