Risalah Diri yang Diterima

Dalam diam yang merunduk,
aku menilik diri serupa kitab tua,
tersurat noda dan huruf yang pudar,
namun tetap bermakna dalam tiap hela.

Aku tak lagi menyandarkan diri
pada cermin yang memerintah rupa.
Kutapaki jejak luka sebagai titah,
bukan cela yang harus disembunyikan.

Sesungguhnya, aku ini bukan bulat,
tak pula serupa permata yang mulus
aku adalah tanah yang retak,
namun menumbuhkan hijau yang tak kenal lelah.

Adalah aku berdamai
dengan segala kekurangan yang terhampar,
sebagaimana malam menerima rembulan,
tanpa menuntut ia harus sempurna.

Karena ketidaksempurnaan
adalah bagian dari naskah hidup,
dan aku, sebagai pembaca dan penulis,
akhirnya mengaku
aku pantas untuk ada,
dalam segala rupa yang kumiliki.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menyembuhkan Diri Tidak Harus Sendirian

Tidak semua luka bisa dilihat.

Pelan Pelan Pulih